Selasa, 24 September 2013

SARANG WALET BISNIS AIR LIUR YANG MENGGIURKAN

BUDIDAYA BURUNG WALET
( Collacalia fuciphaga )


1. SEJARAH SINGKAT

Burung Walet merupakan burung pemakan serangga yang bersifat aerial dan suka meluncur. Burung ini berwarna gelap, terbangnya cepat dengan ukuran tubuh sedang/kecil, dan memiliki sayap berbentuk sabit yang sempit dan runcing, kakinya sangat kecil begitu juga paruhnya dan jenis burung ini tidak pernah hinggap di pohon. Burung walet mempunyai kebiasaan berdiam di gua-gua atau rumah-rumah yang cukup lembab, remang-remang sampai gelap dan menggunakan langit-langit untuk menempelkan sarang sebagai tempat beristirahat dan berbiak. 

2. SENTRA PETERNAKAN WALET

Sentra Peternakan burung Walet banyak terdapat di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah
Propinsi Jambi Termasuk diantaranya sentra Peternakan Walet di sumatera

3. JENIS

Klasifikasi burung walet adalah sebagai berikut:
  • Superorder : Apomorphae
  • Order : Apodiformes
  • Family : Apodidae
  • Sub Family : Apodenae
  • Tribes : Collacaliini
  • Genera : Collacalia
  • Species : Collacaliafuciphaga


4. KEGUNAAN / MANFAAT

Hasil dari peternakan walet ini adalah sarangnya yang terbuat dari air liurnya (saliva). Sarang walet ini selain mempunyai harga yang tinggi, juga dapat bermanfaat bagi duni kesehatan. Sarang walet berguna untuk menyembuhkan paru-paru, panas dalam, melancarkan peredaran darah dan penambah tenaga. 

5. PERSYARATAN LOKASI


Persyaratan lingkungan lokasi kandang adalah:
  1. Dataran rendah dengan ketinggian maksimum 1000 m dpl.
  2. Daerah yang jauh dari jangkauan pengaruh kemajuan teknologi dan perkembangan masyarakat.
  3. Daerah yang jauh dari gangguan burung-burung buas pemakan daging.
  4. Persawahan, padang rumput, hutan-hutan terbuka, pantai, danau, sungai, rawa-rawa merupakan daerah yang paling tepat.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
  1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
    1. Suhu, Kelembaban dan Penerangan
      Gedung untuk kandang walet harus memiliki suhu, kelembaban dan penerangan yang mirip dengan gua-gua alami. Suhu gua alami berkisar antara 24-26 derajat C dan kelembaban ± 80-95 %. Pengaturan kondisi suhu dan kelembaban dilakukan dengan:
      1. Melapisi plafon dengan sekam setebal 2° Cm
      2. Membuat saluran-saluran air atau kolam dalam gedung.
      3. Menggunakan ventilasi dari pipa bentuk “L” yang berjaraknya 5 m satu lubang, berdiameter 4 cm.
      4. Menutup rapat pintu, jendela dan lubang yang tidak terpakai.
      5. Pada lubang keluar masuk diberi penangkal sinar yang berbentuk corong dari goni atau kain berwarna hitam sehingga keadaan dalam gedung akan lebih gelap. Suasana gelap lebih disenangi walet.
    2. Bentuk dan Konstruksi Gedung
      Umumnya, rumah walet seperti bangunan gedung besar, luasnya bervariasi dari 10x15 m 2 sampai 10x20 m 2 . Makin tinggi wuwungan (bubungan) dan semakin besar jarak antara wuwungan dan plafon, makin baik rumah walet dan lebih disukai burung walet. Rumah tidak boleh tertutup oleh pepohonan tinggi. Tembok gedung dibuat dari dinding berplester sedangkan bagian luar dari campuran semen. Bagian dalam tembok sebaiknya dibuat dari campuran pasir, kapur dan semen dengan perbandingan 3:2:1 yang sangat baik untuk mengendalikan suhu dan kelembaban udara. Untuk mengurangi bau semen dapat disirami air setiap hari. Kerangka atap dan sekat tempat melekatnya sarang-sarang dibuat dari kayu-kayu yang kuat, tua dan tahan lama, awet, tidak mudah dimakan rengat. Atapnya terbuat dari genting. Gedung walet perlu dilengkapi dengan roving room sebagai tempat berputar-putar dan resting room sebagai tempat untuk beristirahat dan bersarang. Lubang tempat keluar masuk burung berukuran 20x20 atau 20x35 cm 2 dibuat di bagian atas. Jumlah lubang tergantung pada kebutuhan dan kondisi gedung. Letaknya lubang jangan menghadap ke timur dan dinding lubang dicat hitam.
  2. Pembibitan
    Umumnya para peternak burung walet melakukan dengan tidak sengaja. Banyaknya burung walet yang mengitari bangunan rumah dimanfaatkan oleh para peternak tersebut. Untuk memancing burung agar lebih banyak lagi, pemilik rumah menyiapkan tape recorder yang berisi rekaman suara burung Walet. Ada juga yang melakukan penumpukan jerami yang menghasilkan serangga-serangga kecil sebagai bahan makanan burung walet.
    1. Pemilihan Bibit dan Calon Induk
      Sebagai induk walet dipilih burung sriti yang diusahakan agar mau bersarang di dalam gedung baru. Cara untuk memancing burung sriti agar masuk dalam gedung baru tersebut dengan menggunakan kaset rekaman dari wuara walet atau sriti. Pemutaran ini dilakukan pada jam 16.00–18.00, yaitu waktu burung kembali mencari makan.
    2. Perawatan Bibit dan Calon Induk
      Di dalam usaha budidaya walet, perlu disiapkan telur walet untuk ditetaskan pada sarang burung sriti. Telur dapat diperoleh dari pemilik gedung walet yang sedang melakukan “panen cara buang telur”. Panen ini dilaksanakan setelah burung walet membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur walet diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Telur yang dibuang dalam panen ini dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak populasi burung walet dengan menetaskannya di dalam sarang sriti.
      1. Memilih Telur Walet
        Telur yang dipanen terdiri dari 3 macam warna, yaitu :
        • Merah muda, telur yang baru keluar dari kloaka induk berumur 0–5 hari.
        • Putih kemerahan, berumur 6–10 hari.
        • Putih pekat kehitaman, mendekati waktu menetas berumur 10–15 hari.
          Telur walet berbentuk bulat panjang, ukuran 2,014x1,353 cm dengan berat 1,97 gram. Ciri telur yang baik harus kelihatan segar dan tidak boleh menginap kecuali dalam mesin tetas. Telur tetas yang baik mempunyai
          kantung udara yang relatif kecil. Stabil dan tidak bergeser dari tempatnya. Letak kuning telur harus ada ditengah dan tidak bergerak-gerak, tidak ditemukan bintik darah. Penentuan kualitas telur di atas dilakukan dengan peneropongan.
      2. Membawa Telur Walet
        Telur yang didapat dari tempat yang jaraknya dekat dapat berupa telur yang masih muda atau setengah tua. Sedangkan telur dari jarak jauh, sebaiknya berupa telur yang sudah mendekati menetas. Telur disusun dalam spon yang berlubang dengan diameter 1 cm. Spon dimasukkan ke dalam keranjang plastik berlubang kemudian ditutup.
        Guncangan kendaraan dan AC yang terlalu dingin dapat mengakibatkan telur mati. Telur muda memiliki angka kematian hampir 80% sedangkan telur tua lebih rendah.
    3. Penetasan Telur Walet
      1. Cara menetaskan telur walet pada sarang sriti.
        Pada saat musim bertelur burung sriti tiba, telur sriti diganti dengan telur walet. Pengambilan telur harus dengan sendok plastik atau kertas tisue untuk menghindari kerusakan dan pencemaran telur yang dapat menyebabkan burung sriti tidak mau mengeraminya. Penggantian telur dilakukan pada siang hari saat burung sriti keluar gedung mencari makan. Selanjutnya telur-telur walet tersebut akan dierami oleh burung sriti dan setelah menetas akan diasuh sampai burung walet dapat terbang serta mencari makan.
      2. Menetaskan telur walet pada mesin penetas
        Suhu mesin penetas sekitar 40 ° C dengan kelembaban 70%. Untuk memperoleh kelembaban tersebut dilakukan dengan menempatkan piring atau cawan berisi air di bagian bawah rak telur. Diusahakan agar air didalam cawan tersebut tidak habis. Telur-telur dimasukan ke dalam rak telur secara merata atau mendata dan jangan tumpang tindih. Dua kali sehari posisi telur-telur dibalik dengan hati-hati untuk menghindari kerusakan embrio. Di hari ketiga dilakukan peneropongan telur. Telur-telur yang kosong dan yang embrionya mati dibuang. Embrio mati tandanya dapat terlihat pada bagian tengah telur terdapat lingkaran darah yang gelap. Sedangkan telur yang embrionya hidup akan terlihat seperti sarang laba-laba. Pembalikan telur dilakukan sampai hari ke-12. Selama penetasan mesin tidak boleh dibuka kecuali untuk keperluan pembalikan atau mengisi cawan pengatur kelembaban. Setelah 13–15
        hari telur akan menetas.
  3. Pemeliharaan
    1. Perawatan Ternak
      Anak burung walet yang baru menetas tidak berbulu dan sangat lemah. Anak walet yang belum mampu makan sendir perlu disuapi dengan telur semut (kroto segar) tiga kali sehari. Selama 2–3 hari anak walet ini masih memerlukan pemanasan yang stabil dan intensif sehingga tidak perlu dikeluarkan dari mesin tetas. Setelah itu, temperatur boleh diturunkan 1–2 derajat/hari dengan cara membuka lubang udara mesin. Setelah berumur ± 10 hari saat bulu-bulu sudah tumbuh anak walet dipindahkan ke dalam kotak khusus. Kotak ini dilengkapi dengan alat pemanas yang diletakan ditengah atau pojok kotak. Setelah berumur 43 hari, anak-anak walet yang sudah siap terbang dibawa ke gedung pada malam hari, kemudian dletakan dalam rak untuk pelepasan. Tinggi rak minimal 2 m dari lantai. Dengan ketinggian ini, anak waket akan dapat terbang pada keesokan harinya dan mengikuti cara terbang walet dewasa.
    2. Sumber Pakan
      Burung walet merupakan burung liar yang mencari makan sendiri. Makanannya adalah serangga-serangga kecil yang ada di daerah pesawahan, tanah terbuka, hutan dan pantai/perairan. Untuk mendapatkan sarang walet yang memuaskan, pengelola rumah walet harus menyediakan makanan tambahan terutama untuk musim kemarau. Beberapa cara untuk mengasilkan serangga adalah:
      1. menanam tanaman dengan tumpang sari.
      2. budidaya serangga yaitu kutu gaplek dan nyamuk.
      3. membuat kolam dipekarangan rumah walet.
      4. menumpuk buah-buah busuk di pekarangan rumah.
    3. Pemeliharaan Kandang
      Apabila gedung sudah lama dihuni oleh walet, kotoran yang menumpuk di lantai harus dibersihkan. Kotoran ini tidak dibuang tetapi dimasukan dalam karung dan disimpan di gedung.
7. HAMA DAN PENYAKIT
  1. Tikus
    Hama ini memakan telur, anak burung walet bahkan sarangnya. Tikus mendatangkan suara gaduh dan kotoran serta air kencingnya dapat menyebabkan suhu yang tidak nyaman.
    Cara pencegahan tikus dengan menutup semua lubang, tidak menimbun barang bekas dan kayu-kayu yang akan digunakan untuk sarang tikus.
  2. Semut
    Semut api dan semut gatal memakan anak walet dan mengganggu burung walet yang sedang bertelur.
    Cara pemberantasan dengan memberi umpan agar semut-semut yang ada di luar sarang mengerumuninya. Setelah itu semut disiram dengan air panas.
  3. Kecoa
    Binatang ini memakan sarang burung sehingga tubuhnya cacat, kecil dan tidak sempurna.
    Cara pemberantasan dengan menyemprot insektisida, menjaga kebersihan dan membuang barang yang tidak diperlukan dibuang agar tidak menjadi tempat persembunyian.
  4. Cicak dan Tokek
    Binatang ini memakan telur dan sarang walet. Tokek dapat memakan anak burung walet. Kotorannya dapat mencemari raungan dan suhu yang ditimbulkan mengganggu ketenangan burung walet.
    Cara pemberantasan dengan diusir, ditangkap sedangkan penanggulangan dengan membuat saluran air di sekitar pagar untuk penghalang, tembok bagian luar dibuat licin dan dicat dan lubang-lubang yang tidak digunakan ditutup.
8. PANEN

Sarang burung walet dapat diambil atau dipanen apabila keadaannya sudah memungkinkan untuk dipetik. Untuk melakukan pemetikan perlu cara dan ketentuan tertentu agar hasil yang diperoleh bisa memenuhi mutu sarang walet yang baik. Jika terjadi kesalahan dalam menanen akan berakibat fatal bagi gedung dan burung walet itu sendiri. Ada kemungkinan burung walet merasa tergangggu dan pindah tempat. Untuk mencegah kemungkinan tersebut, para pemilik gedung perlu mengetahui teknik atau pola dan waktu pemanenan. Pola panen sarang burung dapat dilakukan oleh pengelola gedung walet dengan beberapa cara, yaitu:
  1. Panen rampasan
    Cara ini dilaksanakan setelah sarang siap dipakai untuk bertelur, tetapi pasangan walet itu belum sempat bertelur. Cara ini mempunyai keuntungan yaitu jarak waktu panen cepat, kualitas sarang burung bagus dan total produksi sarang burung pertahun lebih banyak. Kelemahan cara ini tidak baik dalam pelestaraian burung walrt karena tidak ada peremajaan. Kondisinya lemah karena dipicu untuk terus menerus membuat sarang sehingga tidak ada waktu istirahat. Kualitas sarangnya pun merosot menjadi kecil dan tipis karena produksi air liur tidak mampu mengimbangi pemacuan waktu untuk membuat sarang dan bertelur.
  2. Panen Buang Telur
    Cara ini dilaksanankan setelah burung membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Pola ini mempunyai keuntungan yaitu dalam setahun dapat dilakukan panen hingga 4 kali dan mutu sarang yang dihasilkan pun baik karena sempurna dan tebal. Adapun kelemahannya yakni, tidak ada kesempatan bagi walet untuk menetaskan telurnya.
  3. Panen Penetasan
    Pada pola ini sarang dapat dipanen ketika anak-anak walet menetas dan sudah bisa terbang. Kelemahan pola ini, mutu sarang rendah karena sudah mulai rusak dan dicemari oleh kotorannya. Sedangkan keuntungannya adalah burung walet dapat berkembang biak dengan tenang dan aman sehingga polulasi burung dapat meningkat.
Adapun waktu panen adalah:
  1. Panen 4 kali setahun
    Panen ini dilakukan apabila walet sudah kerasan dengan rumah yang dihuni dan telah padat populasinya. Cara yang dipakai yaitu panen pertama dilakukan dengan pola panen rampasan. Sedangkan untuk panen selanjutnya dengan pola buang telur.
  2. Panen 3 kali setahun
    Frekuensi panen ini sangat baik untuk gedung walet yang sudah berjalan dan masih memerlukan penambahan populasi. Cara yang dipakai yaitu, panen tetasan untuk panen pertama dan selanjutnya dengan pola rampasan dan buang telur.
  3. Panen 2 kali setahun
    Cara panen ini dilakukan pada awal pengelolaan, karena tujuannya untuk memperbanyak populasi burung walet.
9. PASCAPANEN

Setelah hasil panen walet dikumpulkan dalu dilakukan pembersihan dan penyortiran dari hasil yang didapat. Hasil panen dibersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel yang kemudian dilakukan pemisahan antara sarang walet yang bersih dengan yang kotor.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA / ANALISA USAHA
  1. Analisis Usaha Budidaya
    Perkiraan analisis budidaya burung walet di daerah Jawa Barat tahun 1999:
    1. Modal tetap
      1. Gedung Rp. 13.000.000,-
      2. Renovasi gedung Rp. 10.000.000,-
      3. Perlengkapan Rp. 500.000,-
        Jumlah modal tetap Rp. 23.500.000,-
        Biaya penyusutan/bulan : Rp. 23.500.000,-:60 bln ( 5 th) Rp. 391.667,-
    2. Modal Kerja
      1. Biaya Pengadaan
        • Telur Walet 500 butir @ Rp. 5.000,- Rp. 500.000,-
        • Transportasi Rp. 100.000,-
        • Makan Rp. 50.000,-
      2. Biaya Kerja
        • Pelihara kandang/bln@ Rp. 5000,- x 3 bln Rp. 15.000,-
        • Panen Rp. 20.000,-
          Jumlah biaya 1x produksi:Rp. 650.000,-+Rp. 35.000,- Rp. 685.000,-
    3. Jumlah modal yang dibutuhkan pada awal Produksi
      1. Modal tetap Rp. 13.500.000,-
      2. Modal kerja 1x Produksi Rp. 685.000,-
        Jumlah modal Rp. 14.185.000,-
    4. Kapasitas produksi untuk 5 tahun 1 kali produksi :
      1. sarang burung walet menghasilkan 1 kg
      2. sarang burung sriti menghasilkan 15 kg
      3. untuk 1 tahun, 4 kali produksi, menghasilkan :
        • sarang burung walet 4 kg
        • sarang burung sriti 60 kg
      4. untuk 5 tahun, 20 kali produksi, menghasilkan :
        • sarang burung walet 20 kg
        • sarang burung sriti 300 kg
    5. Biaya produksi
      1. Biaya tetap per bulan : Rp. 23.500.000,-:60 bulan Rp. 391.667,-
      2. Biaya tidak tetap Rp. 685.000,-
        Total Biaya Produksi per bulan Rp. 1.076.667,-
        Jumlah produksiRp.1.076.667:16 kg (walet dan sriti) Rp. 67.292,-
    6. Penjualan
      1. sarang burung walet 1 kg Rp. 17.000.000,-
      2. sarang burung sriti 15 kg Rp. 3.000.000,-
        Untuk 1 kali produksi Rp. 20.000.000,-Untuk 5 tahun
        1. sarang burung walet 20 kg Rp. 340.000.000,-
        2. sarang burung sriti 300 kg Rp. 60.000.000,-
          Jumlah penjualan Rp. 400.000.000,-
    7. Break Even Point
      1. Pendapatan selama 5 Tahun Rp. 400.000.000,-
      2. Biaya produksi selama 5 th Rp. 1.076.667 x 60 bln Rp. 64.600.000,-
      3. Keuntungan selama 5 tahun Rp. 335.400.000,-
      4. Keuntungan bersih per produksi 335.400.000 : 60 bln Rp. 5.590.000,-
      5. .BEP 232.919
    8. Tingkat Pengembalian Modal 3 bulan (1 x produksi)
  2. Gambaran Peluang Agribisnis
    Sarang burung walet merupakan komoditi ekspor yang bernilai tinggi. Kebutuhan akan sarang burung walet di pasar internasional sangat besar dan masih kekurangan persediaan. Hal ini disebabkan oleh masih kurang banyaknya budidaya burung walet. Selain itu juga produksi sarang walet yang telah ada merupakan produksi dari sarang-sarang alami. Budidaya sarang burung walet sangat menjanjikan bila dikelola dengan baik dan intensif.
11. DAFTAR PUSTAKA
  1. Chantler, P. & G. Driessens. Swift : A guide to the Swift an Treeswift of the World. Pica Press, the Banks. East Sussex, 1995.
  2. Mackinnon, John. Panduan Lapangan Pengenalan Burung-Burung di Jawa dan Bali. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1994.
  3. Nazaruddin & A. Widodo. Sukses Merumahkan Walet. Cet. 2. Jakarta: Penebar Swadaya, 1998.
  4. Tim Penulis PS. Budidaya dan Bisnis Sarang Walet. Cet. 4. Jakarta: Penebar Swadaya, 1994.
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas

CARA TANAM PALA / NUTMEG Myristica fragrans Houtt

CARA TANAM PALA

Syarat Tumbuh 
Tanaman Pala memerlukan iklim yang agak konstan terutama pada masa pertumbuhan. Keadaan iklim dipengaruhi oleh beberapa unsur lainnya seperti : Curah hujan, Angin dan ketinggian tempat.
  • Curah Hujan         :  Banyaknya curah hujan berkisar 2.000 – 3.000 mm/tahun dengan 108 – 180 hari / hujan
  • Temperatur/Suhu : Antara 18º - 34º C.
  • Tanah: Subur, gembur, banyak mengandung humus, drainase baik, pH tanah 5,5 – 6,5 dengan struktur tanan lempung berpasir.
  • Ketinggian tempat: Tumbuh dan berproduksi / berbuah dengan baik pada ketinggian 0 – 700 meter dpl (diatas permukaan Laut)
 Cara Penanaman
  1. Jarak tanam  9  X 9 m atau 7 x 7
  2. Ukuran lubang tanam 50 X 50 X 50 cm dan 70 X 70 X 0 cm bagi tanah yang berstruktur liat.
  3. Pembuatan lubang tanam dilaksanakan 1 – 2 bulan sebelum penanaman.
  4. Tanah lapisan atas dan tanah lapisan bawah dipisahkan.
  5. Tanah bagian atas dicampur pupuk kandang kemudian dimasukan ke lubang bagian A
  6. Tanah bagian bawah dicampur pupuk kandang kemudian dimasukan ke lubang bagian B 
Penanaman
  1. Tanah campuran pupuk kandang dibongkar sesuai dengan ukuran polybag
  2. Bibit dimasukan ke dalam lubang, kemudian Plastik polybag disayat dengan pisau.
  3. Bibit ditahan dengan kayu dari tiga arah guna menjaga tidak roboh oleh angin
Pemeliharaan Tanaman
  • Penyiraman bibit jika kemarau atau disesuaikan dengan curah hujan.
  • Penyiangan atau pembersihan dari rumput disekeliling tanaman dilaksanakan antara 1 – 2 bulan setelah tanam dan selanjutnya dilaksanakan 6 bulan sekali.
  • Penanaman pohon pelindung untuk penahan dari angin dengan jarak 40 m dari tanaman pala.
  • Penggemburan tanah dilakukan disekitar tanaman.
  • Pembuatan rorak sebagai tempat penyimpanan daun yang kering dan yang gugur.
  • Pemupukan tanaman sebaiknya dilakukan sesuai dengan jenis tanah adalah sebagai berikut :
Jenis Tanah
Jenis dan dosis pupuk/phn/thn
Urea
SP 36
KCL
Latosol
Andosol
Podzolik
600 gr
550 gr
750 gr
600 gr
550 gr
550 gr
600 gr
400 gr
800 gr

Pengendalian Hama dan Penyakit Serta Gulma/Rumput
  • Penggerek batang dikendalikan dengan menutup lubang gerekan dengan insektisida Dimecron 50 EC, tamaron 50 EC, dosis 2 cc/lt air sebanyak 10 cc/pohon.
  •  Pengendalian rayap pada pangkal batang dapat dicegah dengan pembersihan kebun (sanitasi). Penangulangan dapat dengan menyemprotkan larutan Diazinon pada bagian yang terserang.
  • Penyakit terbelah putih. Gejala serangan adalah bercak kecil berwarna ungu kecoklatan dibagian luar daging buah menjadi lunak dan hitam, daging buah terbelah dan gugur. Pengendalian dengan drainase di bagian bawah pohon. 
  • Pengendalian Rumput/Gulma dengan cara mencabut rumput yang tumbuh sekitar tanaman pala
Panen Dan Pasca Panen
Panen Muda untuk keperluan Penyulingan Minyak Atsiri
Biasanya dipanen Pala sebelum matang / merekah dimana buah pala sudah menunjukan tua
Panen Tua 
Tanaman pala mulai menghasilkan pada umur 6 – 10 tahun. Kriteria panen ditandai dengan merekahnya buah, berarti buah sudah cukup tua. Umur produktif Tanaman Pala (produksi maksimal pada umur 25 – 60 tahun), produksi konversi antara 1.500 – 2.000 buah/pohon/tahun, 8 kg. buah kering atau 1,6 kg fully. Perbandingan biji dengan fully 4 : 1

Pasca Panen
  • Pemisahan biji dan daging buah, keringakan dan dijemur 10 – 15 hari.
  • Fully dilepaskan dari biji kemudian dihamparkan di atas tampir (dikering anginkan).
  • Panaskan atau layukan kemudian dipipihkan dan dijemur 2 atau 3 hari.
  • Dari daging buah dapat dijadikan manisan, asinan sirup atau zeam.
  • Dari biji pala dapat diambil minyaknya untuk bahan industri, obat-obatan dengan kadar minyak sekitar 8 – 10 %
  • Kadar minyak dari fully sekitar 15 %
Pemasaran Hasil 
Dapat dipasarkan ke pasar local atau eksport (Eropa atau Amerika)

Senin, 17 Juni 2013

WASPADA TERHADAP PENYAKIT ZOONOSIS


KEWASPADAAN ANCAMAN ZOONOSIS
Setiap orang atau instansi perusahaan yang akan  membawa media berupa hewan, bahan-bahan asal hewan ataupun tumbuhan baik untuk tujuan bisnis maupun tujuan sekedar tentengan, maka wajib dilaporkan kepada petugas karantina Pertanian untuk dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu dan memastikan bahwa hewan atau tumbuhan tersebut tidak terinfeksi dari virus atau penyakit yang berbahaya. Tidak hanya hewan atau tumbuhan tetapi bisa bahan asal hewan pangan seperti daging, telur,susu dan hasil bahan asal hewan non pangan seperti pakan ternak yang berasal dari barang ekspor ataupun impor yang bertujuan untuk kegiatan perdaganganpun harus tetap dikarantina karena saat ini banyak masalah yang timbul akibat lalulintas masuk dan keluarnya hewan dan bahan asal hewan serta tumbuhan kesuatu negara. Contoh penyakit berbahaya yang ditularkan oleh hewan kepada manusia adalah sapi gila, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Antrhax, Rabies, flu burung , flu babi dan sebagainya.
Berdasarkan agen penyebabnya zoonosis dapat
dibedakan atas :
1 . Zoonosis yang disebabkan oleh bakteri, misalnyaantraks, brucellosis, leptospirosis, tuberkulosis, listeriosis dan salmonelosis,
2. Zoonosis yang disebabkan oleh virus, misalnya rabies, Japanese encephalitis, nipah dan Avian influenza,
3. Zoonosis yang disebabkan oleh parasit misalnya toxoplasmosis, taeniasis dan scabies,
4. Zoonosis yang disebabkan oleh jamur misalnya ringworm,
5. Zoonosis disebabkan oleh penyebab lainnya, misalnya BSE, yang disebabkan oleh prion yaitu suatu molekul protein tanpa asam inti, baik DNA maupun RNA.
Belum lama ini seperti di beritakan media masa baik elektronik maupun surat kabar di Meksiko sedang marak mewabahnya kasus flu burung, China sedang mewabah penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang manusia, dan kejadian terbaru serangan virus Ebola di Uganda yang telah mengakibatkan kematian di negara tersebut.

1.       Wabah Penyakit Mulut dan Kuku
Wabah Penyakit Mulut dan Kuku di China Seperti yang diberitakan AFP/ANTARA Menurut Departemen Kesehatan China, lebih dari 460.000 orang terinfeksi oleh penyakit tersebut pada Mei, yang menyebabkan 132 kematian, Penyebaran dalam beberapa hari terakhir disebabkan oleh suhu yang tinggi, departemen kesehatan di banyak propinsi dan wilayah China, termasuk Gansu, Fujian, Jiangsu dan Xinjiang telah mengeluarkan peringatan atas wabah penyakit tersebut, kata media pemerintah setempat.
Penyakit ini sangat menular dan sering terjadi dalam musim panas. Orang dewasa umumnya lebih kebal, walau bisa juga terkena. Penularannya melalui jalur fekal-pral (pencernaan) dan saluran pernapasan, yaitu dari droplet (butiran ludah), pilek, air liur, tinja, cairan vesikel (kelainan kulit berupa gelembung kecil berisi cairan) atau ekskreta. Penularan kontak tidak langsung melalui barang, handuk, baju, peralatan makanan, dan mainan yang terkontaminasi oleh sekresi itu. Tidak ada vektor tetapi ada pembawa (“carrier”) seperti lalat dan kecoa.

Masa inkubasi 2 -5 hari.
Gejala pada Hewan (sapi) tersebut antara lain :
- Hewan nampak menjadi pincang, dengan disertai radang pada daerah kaki bagian atas, bengkak, kemudian terjadi abses kecil.
-  Adanya keretakan pada kulit diantara kuku dan berbau sangat busuk.
-  Hewan menjadi tidak mau makan disertai kondisi badannya yang terus menurun, diare dan pada
 - Beberapa kasus penyakit mulut dan kuku di lapangan ada sapi yang ditemukan tidak dapat berdiri.

Gejala pada Manusia tersebut antara lain :

- Hiperpireksia, yaitu demam tinggi dengan suhu lebih dari 39 C.
- Demam tidak turun-turun
- Takikardia (nadi menjadi cepat)
- Takipneu, yaitu napas jadi cepat dan sesak
- Malas makan, muntah, atau diare berulang dengan dehidrasi.
- Letargi, lemas, dan mengantuk terus
- Nyeri pada leher, lengan, dan kaki.
- Kejang-kejang, atau terjadi kelumpuhan pada saraf kranial
- Keringat dingin
- Fotofobia (tidak tahan melihat sinar)
- Ketegangan pada daerah perut
- Halusinasi atau gangguan kesadaran

2.       Wabah flu burung
Detik News, Sekitar 2,5 juta ekor unggas telah dimusnahkan di berbagai peternakan unggas di Meksiko barat dalam tiga pekan terakhir. Ini dilakukan sebagai upaya mengendalikan wabah flu burung yang tengah melanda negeri itu.

Virus flu burung yang tengah mewabah di Meksiko saat ini adalah H7N3. Virus flu burung tipe ini dalam beberapa kasus telah menyebabkan penyakit pada manusia di sejumlah negara di dunia.
Dari 3.4 juta unggas yang terkena, jumlah unggas yang telah dikorbankan sebagai langkah pengendalian dan pemberantasan adalah 2,5 juta," demikian pernyataan Kementerian Pertanian Meksiko.

Wabah ini pertama kali terdeteksi pada 20 Juni lalu di negara bagian Jalisco. Pemerintah Meksiko mengumumkan darurat kesehatan hewan nasional pada 2 Juli lalu di tengah epidemi flu burung yang agresif.
Masa inkubasi virus adalah 1-7 hari dimana setelah itu muncul gejala-gejala seseorang terkena flu burung adalah dengan menunjukkan ciri-ciri berikut :
-          Menderita ISPA 
-          Timbulnya demam tinggi (> 38 derajat Celcius)
-          Sakit tenggorokan yang tiba-tiba
-          Batuk, mengeluarkan ingus, nyeri otot
-          Sakit kepala
-          Lemas mendadak
-          Timbulnya radang paru-paru (pneumonia) yang bila tidak mendapatkan penanganan tepat dapat menyebabkan kematian
Untuk mengenali unggas yang terinfeksi flu burung, anda dapat mengenali dari gejala klinis yang ditemukan pada unggas tersebut yaitu :
-          Jengger dan pial yang bengkak dan berwarna kebiruan;
-          Pendarahan yang rata pada kaki unggas berupa bintik-bintik merah (ptekhi) biasa disebut dengan kaki kerokan;
-          Adanya cairan di mata dan hidung serta timbul gangguan pernafasan;
-          Keluarnya cairan jernih hingga kental dari rongga mulut;
-          Timbulnya diare berlebih;
-          Cangkang telur lembek;
-          Tingkat Kematian yang tinggi mendekati 100% dalam 2 hari hingga 1 minggu.
3.       Wabah Virus Ebola
REPUBLIKA.CO.ID, Virus yang sangat mudah menular ini telah menewaskan paling sedikit 14 orang di Uganda Barat. Pihak berwenang menyatakan paling sedikit 20 kasus ditemukan di distrik Kibaale. Ini adalah wabah ke-empat  Ebola di Uganda dalam beberapa tahun tahun belakangan. Wabah terhebat yang terjadi pada tahun 2000 menewaskan hampir 200 orang.
Virus Ebola sangat menular dengan ciri-ciri gejala demam, muntah, diare, sakit umum atau malaise dan dalam banyak kasus penderita bisa mengalami perdarahan internal dan eksternal.
Tingkat mortalitas demam Ebola sangat tinggi, dengan tingkat fatalitas kasus yang menjangkiti manusia mulai dari 50 persen menjadi 89 persen, tergantung pada subtipe virus.

Cara penularannya:
1.  Penularan terjadi dari binatang (primata) yang telah terinfeksi Virus Ebola ke tubuh manusia.
2. Kemudian dari manusia yang terinfeksi ini, virus dapat ditularkan ke dalam beberapa cara, misalnya ditularkan dengan cara kontak langsung dengan jarum suntik, keringat, organ tubuh serta cairan tubuh lainnya dari manusia yang telah terinfeksi Virus Ebola.
3. Penularan yang terjadi di Rumah Sakit pun dapat terjadi bila pasien serta tenaga medis tidak menggunakan masker atau sarung tangan.
 Adapun masa inkubasinya adalah 2 - 21 hari.
Gejala bila menderita infeksi penyakit yang disebabkan oleh Virus Ebola:
1. Demam mendadak
2. Tubuh melemah
3. Otot sakit
4. Sakit kepala serta sakit tenggorokan
5. Sering muntah, diare, ruam, ginjal serta fungsi lever terganggu
6. Muncul pendarahan dalam serta luar

Dalam pelaksanaan  tugas dan  fungsi pencegahan serta penolakan masuk dan tersebarnya hama penyakit hewan karantina berdasarkan Pada Undang-undang Reublik Indonesia Nomor 16 Tahun 1992 tentang karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2000 Tentang Karantina Hewan Dan Nomor 14 Tahun 2002 Tentang Karantina Tumbuhan, maka Karantina Hewan melakukan pengawasan lalulintas
perdagangan hewan dan produknya sesuai dengan aturan dan ketentuan-ketentuan tersebut diatas. Kebijakan Karantina Hewan dalam hal ini adalah :

1.Mempertahankan status bebasnya Indonesia dari beberapa penyakit hewan menular utama (major epizootic disease) dari kemungkinan masuk dan tersebarnya agen penyakit dari luar negeri.
2.Melakukan pengawasan dan pemeriksaan lalu lintas hewan dan produknya dengan menerapkan CIA (Controlling, Inpection and Approval) yaitu pengendalian, pemeriksaan dan persetujuan untuk melindungi sumber daya alam hayati fauna dari ancaman penyakit hewan berbahaya lainnya serta penyakit eksotik.
3.Melakukan Minimum Disease Program yaitu program untuk meminimalkan kasus penyakit hewan di suatu wilayah/daerah tertentu di Indonesia melalui sistem pengendalian dan pengawasan lalu lintas hewan dan produknya antar wilayah /antar pulau sehingga dapat mencegah dan menangkal penyebarannya.
4.Mewujudkan pelayanan karantina hewan yang moderen, mandiri dan professional.
      Dalam menjalankan kebijakan karantina hewan oleh petugas karantina hewan  memastikan dan meyakinkan bahwa media pembawa tersebut tidak menularkan hama penyakit hewan karantina, dan tidak lagi membahayakan kesehatan manusia sehingga tidak menggangu ketenteraman batin masyarakat Indonesia pada khususnya, mengangkat harkat dan martabat hidup masyarakat melalui kecukupan pangan yang bermutu dan bergizi, serta ikut menjaga kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup. Dengan mendukung Indonesia bebas dari penyakit yang ditimbulkan oleh hewan (zoonosis) kita ikut mendukung gerakan “One World One Heatlh”

Drh. Angga insan Perdana (Calon Medik Veteriner Pertama)
Dede Anwar, A.Md (Paramedik Veteriner) Balai Karantina Pertanian Kelas I Jambi