Rabu, 13 Agustus 2014

REGULASI DI BIDANG KARANTINA HEWAN

1. UU No 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan
2. PP No 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan
3. Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2005 tentangKeamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik
4. Permentan No.07/Permentan/OT.140/1/2008 Syrat Pemasukan & pengeluaran Bibit Ternak Potong
5. Permentan No 13/Permentan/OT.140/2/2008 Persyaratan Pihak Lain Melakukan Tindak Karantina
6. Permentan No 13/Permentan/OT.140/1/2010 Persyaratan Rumah Potong Hewan Ruminansia
7. Permentan No 34/Permentan/OT.140/7/2006 Persyaratan Penetanapan Instalasi Karantina Hewan
8. Permentan No 37/Permentan/OT.140/3/2014 Tindakan Karantina Pmasukan&Pengeluaran Unggas
9. Permentan No.62/Permentan/OT.140/12/2006 Tindakan Karantina terhadap Obat Hewan /Biologik
10. Keputusn Menteri Pertanian No 444/Kpts/TN.540/7/2002. Pulau Lombok NTB Bebas Brucellosis
11. Kep Menteri Prtanian No 3238/Kpts/PD.630/9/2009 Penggolongan Jenis HPHK (Gol I dan gol II)
12. Kep Menteri Pertanian No 367/Kpts/PD.640/7/2003 Ttg Papua Bebas dari Penyakit Anthrax
13. Permentan No 44/Permentan/OT.140/3/2104 Ttg Tempat2 Pemasukan dan Pengeluaran Karantina
14. Kep Kepala Badan Karantian Pertanian ttg Kategori Tingkat Resiko Media Pmbawa Hphk&Optk
15. Dst  ada di Website ini : Peraturan Badan Karantina Pertanian
16. Tambahan Pengetahuan tentang Pencegahan dan Pemberantasan Rabies

Senin, 11 Agustus 2014

TIPS MEMBEDAKAN DAGING SAPI DAN DAGING CELENG

Konsumsi perkapita masyarakat akan daging semakin tinggi tak terkecuali dengan daging sapi sehingga memicu tingginya harga daging sapi tersebut karena permintaan yang banyak tersebut  tentunya harga daging sapi dipasaran sangat tinggi, sedangkan pemerintah mengeluarkan peraturan terkait pembatasan impor sapi guna menstimulasi pertumbuhan sapi didalam negeri.
kewaspadaan masyarakat akan peredaran daging sapi palsu atau daging sapi campur daging babi mutlak diperlukan dan diketahui.
Berikut ini Tips membedakan Daging Sapi dan daging Babi :


Indikator
Daging Sapi
Daging babi/celeng
Modus Kamuflase
1.    Warna
Lebih Merah
Kurang Merah/Pucat
Darah sapi dilumurkan sehingga warna dan bau daging babi sama dengan daging sapi
2.    Serat Daging
Tegas dan Padat
Serat daging babi Halus dan Mudah dipisahkan
-
3.    Tekstur
Daging Sapi lebih padat kaku dan berbentuk dengan lemak daging sapi agak kering dan berserat
Tekstur daging celeng lembek dan mudah diregangkan, lemak sangat basah, sulit dilepas daridagingnya dan lebih elastis
 -
4.    Aroma/Bau
Bau Khas daging sapi
Berbau anyir
Pelumuran darah sapi pada daging babi celeng


Unntuk membedakan antara daging sapi dan daging celeng pada produk makanan supaya lebih meyakinkan dapat dideteksi melalui pemeriksaan laboratorium, juga untuk mendeteksi daging babi yang udah diolah atau dicampur seperti bakso juga perlu dilakukan uji laboratorium.

Rabu, 16 Juli 2014

PETANI TAHUN 2015 DALAM KOMUNITAS MASYARAKAT EKONOMI ASEAN

Naik Turunnya Pendapatan perkapita masyarakat di Negara Kesatuan Republik Indonesiadan semakin tingginya frekuensi arus perdagangan global, tentu telah membuat kemajuan diberbagai sektor pembangunan tidak terkecuali pertanian. pertanian telah membuktikan tahan terhadap krisis globa.
Sumber Sinar Tani Edisi tanggal 11 -17 juni 2014 NTP atau Nilai Tukar Petani secara nasional pada Mei 2014 mencapai 101,88 atau meningkat 0,08 %, NTP hanya memaparkan secara global tentunya NTP masising-masing petani berbeda-beda dan juga petani didaerah yang berbeda tentunya NTP nya berbeda pula beberapa faktor tentunya yang membedakan diantaranya jumlah skala usaha pertanian atau luas lahan yang dimiliki, jenis usaha pertanian apakah tanaman, peternakan atau perikanan tanaman juga dibagi menjadi tanaman holtikutra atau sayuran, tanaman buah-buahan dan tanaman tahunan atau perkebunan.. begitu juga peternakan ada peternakan unggas kecil unggas besar, ruminansia kecil dan ruminansia besar.
Masyarakat khususnya petani siap atau tidak siap pasti menjadi salah satu komunitas atau suatu elemen yang ikut tergabung didalamnya, apakah sarana prasarana, jalan jembatan agro market atau pasar pertanian telah mendukung tentunya semua harusnya sudah ada plan yang terarah dan terukur... tergabung dalam komunitas asean semoga dapat membuka action-action pelaku usaha dibidang pertanian untuk memasarkan produk-produk lokal asal petani sehingga ekonomi pmasyarakat petani indonesia dapat terangkat seiring makin luasnya pasar dan harapan nya tentu produk tersebut dapat bersaing dipasaran.

Minggu, 22 Juni 2014

PERTANIAN DAN KESEJAHTERAAN



Total masyarakat indonesia yang menggantungkan hidup dibidang pertanian menurut Sesus Penduduk Badan Pusat statistik ( BPS ) Tahun 2012 berjumlah 41,20 juta orang dari 112,80 juta orang angkatan kerja. Faktual, hingga kini sektor pertanian tetap menjadi kantong kemiskinan. BPS mencatat, pada Maret 2012 sekitar 63 persen (18,48 juta orang) dari 29,13 juta penduduk miskin negeri ini tinggal di pedesaan. Mudah diduga, sebagian besar mereka adalah petani dan buruh tani. Pada Maret 2011, misalnya, rumah tangga miskin dengan sumber penghasilan utama dari sektor pertanian mencapai 71,26 persen menurut catatan BPS. Karena itu, sektor pertanian sebetulnya merupakan kunci utama keberhasilan pengentasan masyarakat miskin di negeri ini. Rumusnya sederhana, jika kondisi kesejahteraan petani dan buruh tani semakin baik, dapat dipastikan jumlah penduduk miskin akan berkurang secara signifikan.

Begitu besarnya jumlah masyarakat yang menopang hidup dari sektor ini perlu kiranya manajemen pengelolaan yang baik dari pemerintah sebagai penentu kebijakan sehingga tingkat ekonomi masyarakat yang bergantung pada pertanian setidaknya dapat terangkat, Perlu kita ketahui bersama di beberapa negara maju penduduknya yang bergantung pada bidang pertanian mendapatkan pendapatan yang tinggi dengan dukungan kebijakan pemerintahannya seperti amerika penghasil kedelai, brazil penghasil karet begitu juga negara - negara seperti jepang yang mempunyai keunggulan teknologi sehingga menempatkan petani sebagai orang berdasi

Dari waktu kewaktu, tahun ganti tahun pertanian hanya merupakan sektor yang semakin tidak diminati para pelaku usaha terutama kaum muda, dari sini merupakan salah satu indikator bahwa ada yang salah kenapa sektor ini minim peminat, semakin banyak nya hasil riset yang menghasilkan  teknologi budidaya ataupun teknologi pengolahan juga teknologi dibidang pertanian lainnya tetap saja sektor ini tidak meningkat kalah telak dengan sektor industri dan properti yang terus menggerus lahan-lahan produktif pertanian.

Pemimpin bangsa perlu kirannya merasakan betapa susah mereka para petani yang sekarang sering kita jumpai mereka bertani mengandalkan kemampuan apa adanya, lahan seadanya, pupuk seketemunya karena langka, jg musim atau cuaca yang tak menentu diperparah sistem irigasi yang sudah lapuk dan rusak dimakan waktu.. indonesia sebagai negeri agraris dengan luas lahan yang sangat luas berbagai jenis flora dan fauna yang banyak perlu kiranya dapat mensejahterakan penduduknya… dan merubah cara pandang masyarakat bahwa pertanian pasti bisa membawa kesejahteraan sehingga para petani siap menyambut perdagangan bebas Asean atau sering disebut masyarakat Ekonomi Asean (MEA) Jangan sampai kita kecewa pada saatnya nanti orang Negeri tetangga sukses bertani dinegeri sendiri…. dengan masyarakat indonesia hanya menjadi buruh atau pekerjanya saja….

Dede Anwar Bsc by anak Negeri

Kamis, 10 April 2014

DI NEGERI AMPLOP

DI NEGERI AMPLOP 

 Amplop-amplop di negeri amplop 
Mengatur dengan teratur 
Hal-hal yang tak teratur menjadi teratur 
Hal-hal yang teratur menjadi tak teratur 
Memutuskan putusan yang tak putus 
Membatalkan putusan yang sudah putus 
Amplop-amplop menguasai penguasa 
Dan mengendalikan orang-orang biasa 
Amplop-amplop membeberkan dan menyembunyikan 
Mencairkan dan membekukan 
Mengganjal dan melicinkan 
Orang bicara bisa bisu 
Orang mendengar bisa tuli 
Orang alim bisa nafsu 
Orang sakti bisa mati 
Di negeri amplop 
Amplop-amplop mengamplopi 
apa saja dan siapa saja
 
 (oleh: KH. Mustofa Bisri)Lebih akrab dengan sebutan Gus Mus

Minggu, 23 Maret 2014

BEKERJA PILIHAN HIDUP UNTUK BEKAL DUNIA AKHIRAT

Petani Bekerja dengan Jalan Bercocok-Tanam

Di dalam al-Quran Allah menyebutkan tentang masalah mencari rezeki beberapa pokok yang harus ditepati demi suksesnya bercocok-tanam itu.
Pertama Allah menyebutkan, bahwa bumi ini disediakan Allah untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan memproduksi. Untuk itu Ia jadikan bumi ini serba mudah dan dihamparkan, sebagai suatu nikmat yang harus diingat dan disyukuri.
Firman Allah:
"Allah menjadikan bumi ini untuk kamu dengan terhampar supaya kamu menjalani jalan-jalan besarnya." (Nuh: 19-20) "Bumi ini diletakkan Allah untuk umat manusia, di dalamnya penuh dengan buah-buahan dan korma yang mempunyai kelopak-kelopak, biji-bijian yang mempunyai kulit dan berbau harum. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (ar-Rahman: 10-13)
Yang kedua, Allah menyebutkan tentang air, Ia mudahkannya, dengan diturunkannya melalui jalan hujan dan mengalir di sungai-sungai, kemudian dengan air itu dihidupkanlah bumi yang tadinya mati.
Firman Allah:
"Dialah zat yang menurunkan air dari langit, maka dengan air itu kami keluarkan tumbulr-tumbuhan dari tiap-tiap sesuatu, maka kami keluarkan daripadanya pohon yang hijau yang daripadanya kami keluarkan biji-bijian yang bersusun-susun." (al-An'am: 99) "Hendaklah manusia mau melihat makanannya. Kami curahkan air dengan deras, kemudian kami hancurkan bumi dengan sungguh-sungguh hancur kemudian kami tumbuhkan padanya biji-bijian, anggur dan sayur-mayur." ('Abasa: 24-28)
Selanjutnya tentang angin yang dilepas Allah dengan membawa kegembiraan, di antaranya dapat menggiring awan dan mengkawinkan tumbuh-tumbuhan. Ini semua tersebut dalam firman Allah:
"Dan bumi Kami hamparkannya dan Kami tancapkan di atasnya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya dari tiap-tiap sesuatu yang ditimbang. Dan Kami jadikan untuk kamu padanya sumber-sumber penghidupan dan orang-orang yang kamu tidak bisa memberi rezeki kepadanya. Dan tidak ada sesuatu benda melainkan di sisi Kamilah perbendaharaannya, dan Kami tidak menurunkan dia melainkan dengan ukuran tertentu. Dan Kami lepaskan angin untuk mengkawinkan, kemudian Kami turunkan air hujan dari langit, kemudian Kami siram kamu dengan air itu padahal bukanlah kamu yang mempunyai perbendaharaan air itu." (al-Hijr: 19-22)
Seluruh ayat-ayat ini merupakan peringatan Allah kepada umat manusia tentang nikmatnya bercocok-tanam serta mudahnya jalan-jalan untuk bercocok-tanam itu. Dan sabda Rasulullah s.a.w.:
"Tidak seorang muslim pun yang menanam tanaman atau menaburkan benih, kemudian dimakan oleh burung atau manusia, melainkan dia itu baginya merupakan sedekah." (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Dan sabdanya pula yang artinya sebagai berikut:
"Tidak seorang muslim pun yang menanam tanaman, kecuali apa yang dimakan merupakan sedekah baginya, dan apa yang dicuri juga merupakan sedekah baginya dan tidak juga dikurangi oleh seseorang melainkan dia itu merupakan sedekah baginya sampai hari kiamat." (Riwayat Muslim)
Penegasan hadis tersebut, bahwa pahalanya akan terus berlangsung selama tanaman atau benih yang ditaburkan itu dimakan atau dimanfaatkan, sekalipun yang menanam dan yang menaburkannya itu telah meninggal dunia; dan sekalipun tanaman-tanaman itu telah pindah ke tangan orang lain.
Para ulama berpendapat: "Dalam keleluasaan kemurahan Allah, bahwa Ia memberi pahala sesudah seseorang itu meninggal dunia sebagaimana waktu dia masih hidup, yaitu berlaku pada enam golongan: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, anak saleh yang mau mendoakan orang tuanya, tanaman, biji yang ditaburkan dan binatang (kendaraan) yang disediakan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh."
Diriwayatkan, ada seorang laki-laki yang bertemu Abu Darda' ketika itu dia menanam pohon pala. Kemudian orang laki-laki itu bertanya kepada Abu Darda': Hai Abu Darda'! Mengapa engkau tanam pohon ini, padahal engkau sudah sangat tua, sedang pohon ini tidak akan berbuah kecuali sekian tahun lamanya. Maka Abu Darda' menjawab: Bukankah aku yang akan memetik pahalanya di samping untuk makanan orang lain?
Salah seorang sahabat Nabi ada yang mengatakan:
"Saya mendengar Rasulullah s.a.w. membisikkan pada telingaku ini, yaitu: Barangsiapa menanam sebuah pohon kemudian dengan tekun memeliharanya dan mengurusinya hingga berbuah, maka sesungguhnya baginya pada tiap-tiap sesuatu yang dimakan dari buahnya merupakan sedekah di sisi Allah." (Riwayat Ahmad)
Dari hadis-hadis ini para ulama berpendapat, bahwa bercocok-tanam (bertani) adalah pekerjaan yang paling baik. Tetapi yang lain berpendapat: Bahwa pertukangan atau pekerjaan tangan merupakan pekerjaan yang paling mulia. Sedang yang lain berpendapat: Daganglah yang paling baik. Sementara ahli penyelidik dan pentashih berpendapat:
Seharusnya kesemuanya itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan keadaan. Kalau masalah bahan makanan yang memang sangat dibutuhkan, maka bercocok-tanam adalah pekerjaan yang lebih utama, karena dapat membantu orang banyak. Kalau yang sangat dibutuhkan itu barang-barang perdagangan karena terputusnya jalan-jalan misalnya, maka berdagang adalah yang lebih utama. Dan kalau yang dibutuhkan itu soal-soal kerajinan/pekerjaan tangan, maka pekerjaan tangan itu adalah lebih utama.33
Perincian yang terakhir ini kiranya selaras dengan keutamaan pengetahuan ekonomi modern.

A. Bercocok-Tanam yang Diharamkan

Setiap tumbuh-tumbuhan yang diharamkan memakannya atau yang tidak boleh dipergunakan kecuali dalam keadaan darurat, maka tumbuh-tumbuhan tersebut haram ditanam, misalnya: hasyisy (ganja) dan sebagainya.
Begitu juga tembakau kalau kita berpendapat merokok itu haram, dan inilah yang rajih, maka menanamnya berarti haram. Dan kalau berpendapat makruh, maka menanamnya pun makruh juga.
Tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk menanam sesuatu yang haram untuk dijual kepada orang selain Islam: Sebab selamanya seorang muslim tidak boleh berbuat haram. Oleh karena itu seorang muslim tidak diperkenankan memelihara babi untuk dijual kepada orang Kristen. Dasar ini sebagaimana telah sama-sama kita maklumi, bagaimana Islam mengharamkan menjual anggur yang sudah jelas halalnya itu kepada orang yang diketahui, bahwa anggur tersebut akan dibuat arak.

B. anjuran punya usaha lain / beragam usaha

Islam menekankan umatnya supaya bercocoktanam dan mengangkat ke derajat yang tinggi serta memberikan pahala kepada pelakunya. Tetapi di balik itu Islam sangat benci kalau umatnya itu membatasi aktivitasnya hanya pada bidang pertanian atau terbatas bergelimang di dasar laut.
Islam tidak senang umatnya menganggap cukup dalam bertani saja dan mengikuti ekor lembu. Ini dapat mengurangi keperluan umat yang sekaligus dihadapkan kepada suatu bahaya. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau Rasulullah s.a.w. pernah menegaskan, bahwa cara semacam itu merupakan sumber bencana dan bahaya serta kehinaan yang meliliti umat. Kenyataan ini dapat dibenarkan oleh keadaan.
Untuk itu maka Rasululiah s.a.w. telah menyabdakan:
"Apabila kamu jual-beli dengan lenah34 dan kamu berpegang pada ekor-ekor sapi, dan senang bercocok-tanam serta meninggalkan jihad, maka Allah akan memberikan suatu kehinaan atas kamu yang tidak dapat dilepaskan dia, sehingga kamu kembali kepada ajaran agamamu." (Riwayat Abu Daud)
Kalau begitu, maka sudah seharusnya disamping bercocok-tanam ada juga perusahaan dan mata-pencaharian lain yang kiranya dapat memenuhi unsur-unsur penghidupan yang baik dan standard umat yang tinggi dan bebas, serta negara yang kuat dan kayaraya.
Mata-pencaharian dan perusahaan-perusahaan ini bukan hanya dipandang mubah oleh Islam, bahkan sesuai dengan penegasan para ulama dipandangnya sebagai fardhu kifayah' dengan pengertian, bahwa masyarakat Islami harus memperbanyak dari kalangan umatnya orang-orang yang berpengetahuan, memperbanyak perusahaan dan mata-pencaharian yang kiranya dapat mencukupi kebutuhan masyarakat itu dan dapat mengatasi segala urusannya. Maka apabila terjadi suatu kekosongan baik dari segi pengetahuan ataupun perusahaan dan tidak ada yang mengurusnya, maka seluruh masyarakat Islam itu akan berdosa, khususnya ulil amri (kepala exekutif) dan ahlul hili wal aqdi (lembaga legislatif).
Imam Ghazali berkata: "Adapun yang termasuk fardhu kifayah, yaitu semua ilmu yang sangat diperlukan sebagai standard untuk mengurusi persoalan-persoalan duniawiah, seperti ilmu kedokteran, karena dia itu amat dibutuhkan demi menjaga kestabilan badani dan seperti ilmu hisab sebagai yang sangat dibutuhkan untuk urusan mu'amalat, pembagian wasiat, waris, dan lain-lain.
Ilmu-ilmu ini kalau sesuatu negara itu kekosongan orang-orang yang mengerti urusan tersebut, maka seluruh penduduk negeri tersebut berdosa. Tetapi kalau ada seorang yang bekerja untuk persoalan ini, sudah dianggap cukup dan gugurlah kewajiban itu dari yang lain.
Justru itu tidak mengherankan kalau kita katakan: Bahwa ilmu kedokteran (kesehatan) dan hisab termasuk fardhu kifayah. Begitu juga pokok perindustrian seperti ilmu pertanian, pertenunan dan siasah bahkan ilmu bekam dan klermaker/penjahit termasuk juga fardhu kifayah. Sebab kalau suatu negara kefakiman ahli bekam, niscaya kebinasaan mengancam, yang berarti pula mereka menyerahkan dirinya kepada kebinasaan. Padahal Zat yang menurunkan penyakit, Dia juga menurunkan obatnya dan Ia membimbing umat manusia untuk menggunakan obat-obatan tersebut dan telah juga dipersiapkan cara-cara untuk menemukannya. Oleh karena itu kita tidak boleh mencampakkan diri kepada kebinasaan dengan cara meremehkan persoalan tersebut."35
Al-Quran telah mengisyaratkan supaya memperbanyak bidang-bidang perindustrian dengan disebutnya sebagai nikmat kurnia Allah. Misalnya firman Allah yang menceriterakan tentang Nabi Daud:
"Dan Kami lunakkan besi baginya. Hendaklah kamu membuat baju besi yang panjang dan ukurlah dalam lubangnya." (Saba': 10- 11) "Dan Kami ajar dia untuk membuat pakaian buat kamu untuk menjaga kamu dari bahayamu, apakah kamu mau berterimakasih?" al-Anbiya': 80)
Kemudian tentang Nabi Sulaiman, Allah berfirman juga:
"Dan Kami alirkan kepadanya mata air tembaga, dan dari antara jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya, dan barangsiapa yang berpaling di antara mereka dari perintah Kami, maka akan Kami rasakan dia dari siksaan api yang, menyala. Para jin itu bekerja untuk Sulaiman menurut apa yang ia inginkan, misalnya gedung-gedung yang tinggi, patung patung dan piring-piring model kolam dan kuali yang tetap. Kerjakanlah hai keluarga Daud dengan penuh kesyukuran." (Saba': 12-13)
Dan tentang Dzul Qarnain dengan bendungan raksasanya (great wall) itu, Allah berfirman:
"Dia berkata: Apa yang Tuhanku tetapkan aku padanya lebih baik. Oleh karena itu bantulah aku dengan sungguh-sungguh, maka akan kubuat satu bendungan (pembatas) antara kamu dan mereka. Bawalah kepadaku kepingan-kepingan besi sehingga apabila sudah sama antara dua gunung itu, ia pun berkata: Tiuplah. Sehingga apabila ia telah jadikan api, maka ia berkata: Bawalah kepadaku akan kutuangi tembaga di atasnya. Dengan demikian maka mereka tidak dapat mendakinya dan tidak dapat melubanginya." (al-Kahfi: 95-97)
Selanjutnya tentang kisah Nabi Nuh dengan cara membuat perahunya, dimana Allah memberikan isyarat betapa besarnya perahunya itu bagaikan gunung yang akan mengarungi laut.
Maka firman Allah:
"Di antara tanda-tanda kekuasaan Allah ialah adanya perahu di laut bagaikan gunung." (as-Syura: 32)
Dalam beberapa surah, Allah banyak menyebutkan tentang masalah cara-cara berburu dengan segala macam bentuk dan jenisnya, sejak dari cara berburu ikan dan binatang-binatang laut sampai kepada berburu binatang darat. Disebutkan juga bagaimana cara menyelam untuk mengeluarkan lulu' (mutiara), marjan dan sebagainya.
Lebih dari itu semua, al-Quran telah menyadarkan manusia akan nilai daripada besi yang belum pernah dibicarakan oleh kitab-kitab agama sebelumnya. Maka setelah Allah menyebutkan tentang diutusnya para Rasul dan diturunkannya kitab, kemudian Allah berfirman:
"Dan kami turunkan besi, yang padanya ada kekuatan yang sangat dan bermanfaat buat manusia." (al-Hadid: 25)
Oleh karena itu tidak mengherankan, kalau surah yang membicarakan masalah besi ini disebut juga surah al-Hadid (besi).
Seluruh perusahaan dan mata-pencaharian yang dapat menutupi kebutuhan masyarakat atau yang dapat mendatangkan manfaat yang nyata, maka semua itu termasuk amal saleh apabila semua itu dilakukan dengan ikhlas dan dilaksanakan menurut perintah agama.
Islam menganggap tinggi beberapa pekerjaan yang kadang-kadang oleh manusia dinilai sangat rendah, misalnya menggembala kambing yang biasa diabaikan oleh manusia. Malah mereka tidak mau menilainya sebagai pekerjaan yang baik. Namun Rasulullah s.a.w. tetap berkata:
"Allah tidak mengutus seorang Nabi pun melainkan dia itu menggembala kambing. Waktu para sahabat mendengar perkataan itu, mereka kemudian bertanya: Dan engkau, ya Rasulullah? Jawab Nabi: Ya! Saya juga menggembala kambing dengan upah beberapa karat, milik penduduk Makkah." (Riwayat Bukhari)
Muhammad sebagai utusan Allah dan penutup sekalian Nabi, juga menggembala kambing, dan itupun bukan kambingnya sendiri tetapi ia menggembala dengan upah milik sebagian penduduk Makkah. Diterangkannya ini kepada umatnya untuk mengajar mereka, bahwa kebesaran justru dimiliki oleh orang-orang yang suka bekerja, bukan oleh orang yang suka berfoya-foya dan penganggur.
Al-Quran pun mengkisahkan kepada kita tentang kisah Nabi Musa a.s., bahwa dia juga bekerja sebagai buruh bagi seorang yang sangat tua. Dia bekerja sebagai buruh selama 8 tahun sebagai persyaratan untuk dikawinkan dengan salah seorang puterinya. Nabi Musa dinilai orang tua tersebut sebagai pekerja yang baik dan buruh yang terpuji. Maka benarlah dugaan puteri orang tua itu, di mana salah satunya ada yang berkata: "Hai, ayah! Ambillah buruh dia itu, karena sebaik-baik orang yang engkau ambil buruh haruslah orang yang kuat dan terpercaya." (al-Qashash: 26).
Ibnu Abbas meriwayatkan, bahwa Daud bekerja sebagai tukang besi untuk membuat baju besi. Adam bekerja sebagai petani, Nuh sebagai tukang kayu, Idris sebagai klermaker / pembuat baju (penjahit) sedang Musa sebagai penggembala kambing. (Riwayat Hakim).
Untuk itulah setiap muslim harus menyiapkan diri untuk mencari pencaharian, sebab tidak seorang nabi pun kecuali bekerja dalam salah satu lapangan pencaharian.
Nabi Muhammad s.a.w. dalam salah satu hadisnya mengatakan:
"Tidak makan seseorang satu makanan sedikitpun yang lebih baik, melainkan dia makan atas usahanya sendiri,dan Nabi Daud makan dari hasil pekerjaanya sendiri." (Riwayat Bukhari)
Apapun Pekerjaannya mari kita tekuni... bangun jaringan usaha, ciptakan iklim usaha yang kondusif..
harapannya para petani bisa sejahtera, para pengusaha bisa untung, para buruh bisa bekerja para pengrajin bisa berkarya...  indonesia Tanah air tercinta



Sumber : Halal dan Haram dalam Islam
Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi
Alih bahasa: H. Mu'ammal Hamidy
Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993